Oleh: Annas Firmansyah, Aktivis Muhammadiyah
SEJUK.ID – Belakangan ini banyak sekali isu-isu yang menerpa salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU). Banyak masyarakat yang melihat bagaimana seolah-olah NU sebagai ormas Islam justru “mengembangkan” cq “membuat” agama baru karena dianggap mencampuradukkan antara ajaran agama dengan ritual budaya. Hal tersebut menimbulkan banyak pandangan positif maupun negatif. Bagi yang berpandangan negatif, NU selalu dinilai berlebihan dan tidak memberi filter dalam menerapkan syariat Islam sampai dinilai terlalu “kreatif” dalam beribadah. Namun ada juga pandangan positif yang memandang NU sebagai “penjaga” budaya di Indonesia terkhusus budaya Jawa.
Sebaliknya, Muhammadiyah memilih jalan yang moderat dan berkemajuan. Semangat tajdid dari Muhammadiyah sering dimaknai sebagai pengembalian Islam ke ajarannya yang murni tanpa adanya embel-embel budaya sama sekali. Praktik-praktik yang dinilai TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat) sangat diperangi dan dihindari dalam kultur berislam di Muhammadiyah. Terkadang, hal tersebut justru menjadi berlebihan sehingga semua yang berbau budaya “disingkiri” oleh kader-kader Muhammadiyah tanpa mencoba memaknai dan memilah budaya sebagai identitas bangsa atau ritual persembahan. Masyarakat pun banyak yang menilai jika Muhammadiyah sangat “kaku” dalam berdakwah dan tidak bisa menyentuh orang-orang di desa yang masih kental dengan ritual budaya. Selain itu, narasi positif pun juga tetap berhembus ke Muhammadiyah dengan anggapan ormas yang bersih, tidak neko-neko, lurus dll. Pada tulisan ini, penulis mencoba mengurai bagaiamana perjalanan Muhammadiyah saat bersentuhan dengan budaya terkhusus budaya Jawa dan bagaimana Muhammadiyah memaknai Muhammadiyah dalam dakwahnya. Tulisan ini juga merupakan rangkuman singkat dari buku berjudul “Muhammadiyah Jawa” karya Ahmad Najib Burhani, Ph.D.
Muhammadiyah Sebagai Resepresentasi “Islam Jawa”
Pandangan masyarakat lebih memandang NU lebih pas dipandangan sebagai representasi Islam-Jawa daripada Muhammadiyah. Anak-anak muda NU pun juga banyak yang bergelut dengan tradisi Jawa daripada anak-anak muda Muhammadiyah. Kondisi kasar ini tentu sangat berbeda dengan catatan-catatan sejarah pada dua organisasi terbesar di Indonesia tersebut. Setidaknya ada beberapa bukti yang memperkuat asumsi ini.
Pertama, NU (1926) adalah organisasi para santri dan Muhammadiyah (1912) adalah gerakan para priyayi muslim. Sebagai perbandingan, para pendiri NU adalah para Kyai dari berbagai pesantren di Jawa (seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah), dan para pengurus NU juga lebih banyak diisi oleh orang-orang dengan nama Arab. Pendiri dan pengurus Muhammadiyah adalah para Priyayi Keraton Yogyakarta (Seperti Raden Ngabehi Muhammad Darwisy, Raden Ketib Tjandana Haji Ahmat dan Raden Sosrosugondo).
Kedua, jika melihat kembali foto-foto dokumenter pada awal-awal berdirinya, para pendiri, pimpinan dan pengurus NU cara berpakaiannya lebih dekat dengan tradisi Arab (Jubah, Sorban, dll), sementara para pendiri, pimpinan, dan pengurus Muhammadiyah cara berpakaiannya lebih ke budaya Jawa (Beskap, Blankonan, Jarikan, dll). Bahkan pada Mukatamar Muhammadiyah di Solo tahun 1929 (ke-XVIII) ada aturan congres untuk memakai pakaian tradisional bagi peserta muktamar sesuai daerahnya masing-masing yang tidak melanggar syara’ dan disambut oleh panitia dengan mengenakan pakaian kebesaran Jawa ala Solo dan Jogja.
Ketiga, bahasa Jawa adalah bahasa resmi di Muhammadiyah sebelum digantikan oleh bahasa Indonesia. Muhammadiyah juga menjadi pelopor pertama kali di Indonesia yang memperkenalkan Khutbah Jumat dalam veracular languagei (bahasa masyarakat setempat). Dalam beberapa hal seperti menerbitkan satu edisi al-Qur’an dalam bahasa Melayu, dan dua edisi dalam bahasa Jawa (satu berakasara Jawa dan satu lagi beraksara latin), dalam penerbitan surat-menyurat dan lainnya dimana umumnya pada masa itu menggunakan Arab pegon, Muhammadiyah menerbitkan Soewara Moehammadijah dalam bahasa Melayu dan Jawa, Muhammadiyah juga punya terbitan-terbitan lain beraksara Jawa seperti Pepadanging Moehammadijah dan Soengoeting Muhammadijah, salah satu karya KH. Ahmad Dahlan yang masih dapat diakses sekarang mulanya menggunakan bahasa Jawa.
Keempat, Muhammadiyah dulu menggunakan Kalender Jawa (tahun saka), bersamaan dengan kalender Arab (Hijriyah) dan Gregorian (Masehi) dalam surat-menyurat dan laporan-laporan yang diterbitkan. Anggota Muhammadiyah dulu masih terbiasa menggunakan Kalender Saka, yang diciptakan Sultan Agung pada 1630-an, dalam keseharian mereka.
Kelima, Muhammadiyah memiliki ikatan cukup erat dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi yang ingin membangun kembali budaya Jawa. Seluruh pendiri Muhammadiyah juga merupakan anggota Boedi Oetomo, dan KH Ahmad Dahlan juga anggota SI (Sarekat Islam) dan organisasi lain di Jawa.
Keenam, Muhammadiyah tidak pernah menolak upacara grebek yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta. Dalam garebek yang secara rutin diadakan di Kesultanan Yogyakarta (Garebek Mulud, Garebek Besar, Garebek Pasa, dan Garebek Sultan), sebagai abdi dalem pamethakan, KH. Ahmad Dahlan dan beberapa pimpinan Muhammadiyah tentu ikut dalam ritual garebek, mungkin beliau dan Muhammadiyah tidak setuju dengan beberapa praktik yang ada di dalam acara garebek, namun wajah toleransi beliau menunjukkan sikap yang santun terhadap budaya tersebut. Bahkan hingga hari ini pun Muhammadiyah tidak mengecam garebek.
Karakteristik Anggota Muhammadiyah
Terdapat tiga kelompok utama dalam Muhammadiyah pada tahap-tahap awal, yaitu: Priyayi santri kauman, priyayi non santri baik yang tradisional dan maupun jebolan pendidikan Barat, kaum pedagang dan pengusaha.
Dari pengajuan izin resmi pengakuan Muhammadiyah sebagai gerakan yang sah, yang diserahkan kepada Gurbernur Jendral pada tahun 1912, kita dapat mengetahui 9 nama pendiri Muhammadiyah kebanyakan adalah abdi dalem keraton Yogyakarta. Sembilan nama tersebut: Mas Ketib Amin (Haji Ahmad Dahlan), Mas Penghulu (Abdullah Sirat), Raden Mas Ketib Tjandana, Haji Abdul Rahman, Raden Haji Sarkawi, Mas Gebajan (Haji Mohammad), Raden Mas Djaelani, Haji Anis, Mas Carik (Haji Muhammad Pakih). Bila kita melihat, 7 dari 9 pimpinan awal Muhammadiyah adalah abdi dalem terlihat dari gelar bangsawan mereka (mas, raden), diantara mereka hanya 2 yang tak bergelar bangsawan keraton (Haji Abdul Rahman dan Haji Anis), namun keduanya juga merupakan keturuan priyayi.
Pada masa awal gerakan, inti dari pengurus gerakan ini kebanyakan terdiri dari abdi dalem atau putra abdi dalem di Kauman. Mereka adalah keluarga, teman dekat, santri, dan murid KH Ahmad Dahlan. Selain priyayi santri Kauman, kelompok kedua yang tertarik dengan Muhammadiyah adalah priyayi nonsantri, termasuk orang-orang jebolan pendidikan Barat, seperti Raden Sosrosoegondo, Mas Radji, Mas Ngabehi Djojosugito, dan Dr. Soemowidagdo. Jika kita melihat, banyak diantara nama-nama pimpinan Muhammadiyah di masa awal tidak bergelar Haji, mereka kebanyakan memiliki nama Jawa dan gelar bangsawan Jawa.
Kelompok utama ketiga yang menjadi penyangga Muhammadiyah adalah para pedagang dan pengusaha. Hal tersebut dikarenakan kegiatan KH Ahmad Dahlan sebagai pedagang dan pengusaha batik yang membuatnya dikenal oleh pedagang-pedagang lainnya dari berbagai daerah, dan mendukung kegiatan Muhammadiyah serta mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai tempat seperti Surabaya, Pekalongan, Pekajangan, Surakarta, dan Kotagede.
Dengan demikian klasifikasi anggota Muhammadiyah adalah kelompok priyayi santri Kauman, para priyayi nonsantri, priyayi jebolan pendidikan Barat, serta para pedagang dan pengusaha dari berbagai daerah di Jawa. Dari klasifikasi tersebut dapat dilihat dan pahami bahwa Jiwa Jawi lekat dengan kelompok-kelompok tersebut, yang santun, lembut dan sangat mencerminkan sikap orang Jawa. Dalam hal ini sikap lembut, toleran dan Jiwa Jawi sangat terlihat dalam diri KH. Ahmad Dahlan, dimana beliau tidak pernah melepas jabatannya sebagai abdi dalem pamethakan dalam hidupnya sekalipun salah satu tujuan beliau adalah utk purifikasi seperti halnya sedikit terpengaruh oleh gerakan Abdul Wahab yang agresif dan merusak bahkan situs-situs bersejarah pun dihancurkan. Namun tidak dengan dakwah KH. Ahmad Dahlan, beliau menunjukkan wajah toleran, lembut dan santun, tidak melawan Sultan, lebih bersikap persuasif. Sangat merepresentasikan sikap orang Jawa dan menampilkan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.


