SEJUK.ID — Rumah Gayatri Nusantara bekerja sama dengan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Jawa Timur menggelar diskusi publik bertajuk “Sri Sedono: Kearifan Abad Keluhuran dan Modernitas” di Abimanyu Library, Tulangan, Sidoarjo pada 6 Juli 2025.
Acara ini menjadi ruang reflektif untuk menelaah kembali nilai-nilai luhur yang tertuang dalam naskah kuno Nusantara serta menggali relevansinya dalam kehidupan masa kini.
Diskusi yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 14.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber utama: Agustin Ariani, seorang filolog dan peneliti independen, serta Abdus Sair, dosen sosiologi dari FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS). Prolog acara dibawakan oleh Bambang Prakoso, pemilik Rumah Gayatri Nusantara sekaligus Ketua GPMB Jawa Timur.
Kegiatan ini dihadiri berbagai kalangan, di antaranya akademisi, perwakilan Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, Dispursip Surabaya, Diapusip Sidoarjo, pengurus REI Jatim, Dewan Kesenian Sidoarjo, Forum Taman Baca Masyarakat, GPMB Tapanuli Selatan, mahasiswa dari UWKS dan UNAIR, serta masyarakat umum.
Dalam pemaparannya, Agustin Ariani menekankan bahwa pelestarian naskah kuno tidak cukup berhenti pada aspek fisik atau penyimpanan formal semata. Baginya, esensi naskah kuno terletak pada substansi nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya.
“Yang menjadi pamali itu bukan fisiknya, tetapi isinya. Kita harus menjaga dan menyaring substansi nilai dalam naskah-naskah itu, karena di situlah letak keluhuran kita,” ujarnya.
Agustin menjelaskan bahwa naskah kuno tersebar di berbagai tempat, tidak hanya di lembaga pemerintah atau perpustakaan swasta, tetapi juga di pondok pesantren maupun koleksi pribadi masyarakat. Keberadaan naskah-naskah tersebut menjadi saksi kesinambungan budaya lintas generasi.
“Saat kita bicara tentang naskah kuno, sejatinya kita sedang membicarakan tiga masa sekaligus: masa lalu, masa kini, dan bagaimana nilai itu diimplementasikan untuk masa depan,” tambahnya.
Sebagai filolog, ia juga menyoroti rumitnya proses memahami naskah kuno. Menurutnya, teks-teks kuno memiliki lapisan pengodean yang kompleks sehingga tidak bisa dibaca secara sembarangan.
“Naskah kuno memiliki pengodean berlapis-lapis. Dibutuhkan kepekaan dan keterhubungan batin untuk benar-benar memahaminya. Yang bisa membaca dengan benar hanyalah anak Nusantara yang mengerti nadinya sendiri,” pungkasnya.
Sementara itu, Abdus Sair menambahkan perspektif sosiologis mengenai bagaimana naskah-naskah seperti Sri Sedono dapat menjadi sumber nilai dalam pendidikan, etika sosial, hingga pembentukan identitas kultural masyarakat modern.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ruang dialog, tetapi juga langkah konkret dalam menghidupkan kembali warisan intelektual Nusantara yang selama ini kerap terpinggirkan dalam arus wacana pembangunan modern. (*)


