SEJUK.ID – Amrin, putra Desa Rite, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meraih gelar doktor dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Senin (28/9/2026). Amrin tercatat sebagai doktor ke-1.730 di sekolah pascasarjana tersebut.
Kelulusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pendidikan Amrin yang membawanya dari Bima ke Surakarta, kemudian Jakarta. Setiap perpindahan menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan studi doktoral, Amrin kini menjalankan tugas sebagai dosen di Politeknik Negeri Medan (Polmed).
Amrin lahir di Desa Rite pada 1996. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Inpres 2 Rite, kemudian dilanjutkan ke SMPN 1 Ambalawi. Ia selanjutnya bersekolah di SMK Hamzanwadi Kota Bima dan MA Muhammadiyah Kota Bima hingga menyelesaikan pendidikan menengah pada 2013.
Perjalanan Amrin di pendidikan tinggi dimulai di Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2017, kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2018. Dua tahun kemudian, ia berhasil meraih gelar magister.
Pada 2021, Amrin kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keputusan itu diambil sebelum dirinya menjadi aparatur sipil negara. Ketika mulai menjalankan tugas sebagai dosen di Polmed pada 2024, studi doktoralnya masih berlangsung.
Sejak saat itu, Amrin menjalani dua peran sekaligus sebagai dosen dan mahasiswa. Ia tetap mengikuti proses pembimbingan serta menyelesaikan berbagai tahapan akademik sembari menjalankan tugasnya di kampus. Setelah melalui seminar hasil dan ujian tertutup, ia akhirnya menghadapi Ujian Terbuka Promosi Doktor di Aula Prof. Suwito pada 28 September 2026.
Sidang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Dalam kesempatan itu, Amrin mempertahankan disertasinya di hadapan tujuh anggota dewan penguji. Sidang dipimpin Prof. Zulkifli, M.A. Keputusan kelulusan tersebut sekaligus menutup masa studi doktoral yang telah ditempuhnya selama lebih dari lima tahun.
Bagi Amrin, gelar doktor bukanlah akhir dari proses belajar. Gelar tersebut justru menjadi bekal untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen dan memberikan manfaat melalui ilmu pengetahuan yang ditekuninya.
“Gelar doktor bukan akhir dari segala-galanya, melainkan awal perjuangan akademis saya untuk membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan,” ujar Amrin.
Di balik pencapaian tersebut, Amrin menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tuanya, H. Alwi dan Sadariah, serta istrinya, Mas’udatul Fitriyah. Ia juga mengapresiasi dukungan saudara, ipar, keluarga, para pembimbing, dan orang-orang yang mendampinginya selama menjalani studi doktoral.
Amrin berharap pencapaiannya dapat menjadi dorongan bagi pelajar dan mahasiswa dari daerah untuk berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut dia, pendidikan merupakan proses yang ditempuh secara bertahap, mulai dari menyelesaikan jenjang yang sedang dijalani, mencari kesempatan untuk melanjutkan, hingga bertahan sampai tujuan tercapai.
“Semoga gelar doktor ini bisa memberikan perubahan di tengah arus disrupsi, serta memberikan kontribusi untuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama,” katanya.
Dari ruang kelas di Desa Rite hingga ruang promosi doktor di Jakarta, Amrin menempuh perjalanan pendidikan yang panjang. Kini, ia kembali menjalankan tugas sebagai dosen dengan membawa pengalaman dari setiap jenjang pendidikan untuk dibagikan kepada mahasiswa dan dikembangkan melalui kerja akademik berikutnya. (*)


