SEJUK.ID – Sebanyak 35 pegiat teater dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berkumpul dalam latihan gabungan yang digelar komunitas Lamongan Art Society (LAS) di SMKN 2 Lamongan, Ahad (23/8/2026). Seharian belajar, malam harinya mereka langsung diuji melalui pertunjukan.
Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah komunitas teater di Lamongan dalam satu ruang belajar bersama. Tidak sekadar berlatih, kegiatan itu dirancang menjadi ruang untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, sekaligus mengembangkan kemampuan dalam dunia teater.
Latihan diawali dengan pemanasan fisik. Para peserta mengikuti sejumlah gerakan untuk mempersiapkan tubuh sebelum memasuki materi utama.
Setelah pemanasan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok secara acak. Cara tersebut dilakukan agar mereka tidak hanya berinteraksi dengan anggota komunitas masing-masing, tetapi juga berkenalan dan bekerja sama dengan pegiat teater dari komunitas lain.
Dalam latihan gabungan tersebut, peserta mendapatkan tiga materi utama, yakni keaktoran, kesutradaraan, dan penaskahan.
Materi keaktoran disampaikan oleh seniman muda Lamongan yang akrab disapa Mas Jadug. Ia mengajak peserta mengasah kemampuan aktor dalam mengolah tubuh dan ekspresi, sekaligus membangun karakter ketika berada di atas panggung.
Sementara itu, materi kesutradaraan disampaikan oleh seniman senior Lamongan yang akrab disapa Mas Pandu. Peserta diajak memahami cara seorang sutradara mengolah gagasan dan mengarahkan pertunjukan agar pesan yang dibangun dapat tersampaikan kepada penonton.
Adapun materi penaskahan disampaikan oleh seniman sekaligus desainer yang akrab disapa Mas Aan. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai proses menyusun dan mengembangkan naskah sebagai fondasi sebuah pertunjukan.
Ketua pelaksana kegiatan, Mas Aghits, mengatakan latihan gabungan tersebut sengaja dirancang bukan hanya sebagai kegiatan belajar, melainkan juga sebagai ruang pertemuan bagi para pegiat teater di Lamongan.
“Kami ingin latihan gabungan ini menjadi ruang untuk saling mengenal dan belajar bersama. Karena peserta berasal dari berbagai komunitas, kami berharap mereka bisa bertukar pengalaman dan tidak hanya belajar dari pemateri, tetapi juga dari satu sama lain,” ujarnya.
Menurut Aghits, konsep kegiatan dibuat agar peserta tidak berhenti pada teori. Setelah mendapatkan materi dari tiga pemateri, setiap kelompok langsung ditantang mengolah pengetahuan yang diperoleh menjadi sebuah pertunjukan.
Konsep tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam kegiatan LAS kali ini. Tiga kelompok yang telah memperoleh materi berbeda tidak sekadar menyimpan hasil pembelajaran sebagai teori, tetapi langsung mengaplikasikannya dalam pertunjukan pada malam hari.
Sekitar pukul 19.00 WIB, para peserta kembali berkumpul di Monumen Toren, Alun-Alun Lamongan. Di tempat tersebut, mereka menampilkan hasil proses kreatif yang disiapkan sejak latihan siang hingga sore.
Pertunjukan menghadirkan drama, monolog, dan puisi dengan tema yang berbeda dari setiap kelompok. Dalam waktu relatif singkat, peserta dituntut mampu mengolah materi keaktoran, kesutradaraan, dan penaskahan menjadi karya yang dapat dinikmati penonton.
Bagi peserta, proses tersebut menjadi pengalaman langsung mengenai bagaimana sebuah karya teater lahir. Mereka tidak hanya menerima materi dari para seniman, tetapi juga merasakan proses mengolah gagasan, membangun karakter, menyusun naskah, hingga menghadirkannya di atas panggung.
Melalui latihan gabungan tersebut, LAS berharap hubungan antarkomunitas teater di Lamongan semakin erat. Ruang kolaborasi semacam ini juga diharapkan membuka lebih banyak kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan potensi seni serta melahirkan karya-karya baru dari pegiat teater Lamongan. (*)
Penulis : Nova Aquila Salsabila | Editor : Fathan Faris Saputro


