SEJUK.ID – Sejumlah pemuda-pemudi pesisir Pantura Lamongan, tepatnya di Kecamatan Paciran, mulai menghidupkan kembali gairah literasi melalui pembentukan komunitas Lamongan Book Party. Persiapan awal (onboarding) komunitas ini digelar secara daring melalui aplikasi Zoom bersama pengurus Indonesia Book Party (IBP), Rabu (28/1/2026).
Lamongan Book Party diinisiasi oleh Childani Aulia Rahma, S.Ag. Ia mengajak lima rekannya untuk terlibat aktif dalam komunitas tersebut sekaligus menyukseskan gerakan literasi di Lamongan. Struktur kepengurusan Lamongan Book Party terdiri atas lima bidang kerja, yakni Childani Aulia Rahma sebagai Koordinator Regional, Rizka Negtadecha sebagai Sekretaris, Revoluna Zyde Khaidir sebagai Party Planner, Alifatus Zahroh sebagai Public Relations, serta Eka Setiawati dan Novica Aulia sebagai tim Media Kreatif.
Childani merupakan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memiliki minat besar terhadap dunia literasi. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali ke kampung halamannya di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Lamongan. Kepulangannya tersebut justru menumbuhkan dorongan untuk menghadirkan ruang baca dan aktivitas literasi di lingkungan sekitarnya.
“Sejak kuliah saya sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan, bahkan kuliah sambil bekerja. Setelah wisuda, saya ingin beristirahat sejenak di kampung halaman. Dari situ muncul gagasan, mengapa tidak membuat kegiatan positif saja. Akhirnya saya menginisiasi Lamongan Book Party,” ujar Childani.
Kegiatan persiapan dan onboarding Lamongan Book Party dipandu oleh anggota Indonesia Book Party, Muhammad Syafiq Yunensa dan Siti Ruqoyah, yang merupakan staf bidang Human Resources and General Affairs (HRGA) IBP.
Muhammad Syafiq Yunensa menyambut baik inisiatif para pemuda-pemudi Lamongan tersebut. Menurut dia, langkah ini menjadi awal yang positif bagi pengembangan budaya literasi di daerah pesisir. “Selamat datang dan selamat bergabung. Ini merupakan permulaan yang sangat baik, karena Lamongan memiliki potensi besar untuk dikembangkan dari sisi literasi,” kata Syafiq.
Ia juga menegaskan bahwa kekuatan komunitas literasi tidak ditentukan oleh jumlah anggotanya, melainkan oleh konsistensi gerakan. “Meski saat ini pengurusnya masih enam orang dan semuanya perempuan, bukan tidak mungkin komunitas ini akan berkembang. Yang terpenting adalah konsistensi, bukan kapasitas jumlah anggotanya,” ujarnya. (*)
Reporter Alifatus Zahroh. Editor Fathan Faris Saputro.


