Artikel

Perjuangan Kader Aktivis IMM

6 Mins read

Sejuk.ID – IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) memiliki ambisi yang sangat besar untuk mencetak kader akademisi dengan cumlaude aktivis. Yaitu kader yang bertanggung jawab dalam gelar di bidang studinya masing-masing juga peduli dengan persoalan-persoalan sosial yang ada di masyarakat. Misi ini merupakan manifestasi atas tafsir pada Anggaran Dasar (AD) Bab III pada pasal 7 yakni “Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.”

Maka dari itu untuk mewujudkan terbentuknya kader yang berakhlak mulia perlu adanya seorang kader IMM yang mempunyai semangat daya juang yang tinggi dalam berorganisasi di IMM sehingga dapat mencapai tujuan dari Muhammadiyah.

Definisi dari kata kader yang mempunyai arti penerus. Yaitu orang-orang pilihan yang mampu meneruskan perjuangan dalam keorganisasian IMM. Salah satunya mereka para kader IMM yang biasa disebut dengan kader aktivis. Tak lepas dari perjuangan apa saja yang melandasi mereka untuk tetap ber-IMM. Karena menjadi kader aktivis itu tidaklah mudah, perlu adanya pengorbanan waktu,tenaga,pikiran sampai materi untuk memperjuangkan organisasi IMM ini.

Dibutuhkan etos yang tinggi dalam memperjuangkan nilai-nilai perjuangan di IMM salah satunya nilai-nilai yang terkandung pada trilogi IMM yang mana setiap kader IMM harus mempunyai pemahaman yang tinggi dalam mengimplementasikan trilogi IMM tersebut. Sehingga para kader IMM tak hanya disebut sebagai kader aktivis IMM saja, namun mereka juga disebut sebagai penggerak kader-kader IMM lainnya. Karena kita ber—IMM tidak hanya sekedar berorganisasi saja, melainkan kita sebagai kader aktivis harus dapat merespon segala aspek yang ada baik di dunia pendidikan, agama, politik, sosial, ekonomi dan Muhammadiyah.

Dengan adanya pengaplikasian secara langsung serta adanya bentuk narasi-narasi baru yang muncul dari para kader aktivis yang kemudian berubah menjadi aksi nyata sebagai perwujudan dari perjuangan kader aktivis IMM.

Mungkin dari kita masih merasa asing dengan frasa ‘etos aktivisme’ karena jarang atau tidak pernah digunakan dalam literatur-literatur kontemporer. Namun kali ini akan digunakan untuk menjabarkan keadaan organisasi kita tercinta yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Pada masa sekarang ini. Etos merupakan nilai dasar yang mendorong praktik atau aktivitas sebuah organisasi. Mengutip kalimat dari Franz Magnis Suseno, dalam buku berjudul Manifesto Gerakan Intelektual Profetik Karya A.H Sani, etos berarti semangat dan sikap batin seseorang atau kelompok yang didalamnya termuat tekanan dan nilai moral tertentu. Sedangkan aktivisme diartikan sebagai konstruk pemahaman aktivis dalam melakukan kegiatan-kegiatan atau dalam bahasa lain, praksis gerakan. Etos dari kata aktivis yang mengarah kepada penggerak dari seseorang yang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut.

Etos aktivisme dapat diartikan sebagai pembicaraan nilai dasar dan paham praksis IMM. Seorang aktivis IMM haruslah memiliki etos yang tinggi. Karena jika sebagai kader aktivis hanya memiliki kemauan saja namun tidak ada semangat perjuangan maka, organisasi ini tidaklah memiliki arti apa-apa.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran IMM merupakan suatu keharusan sejarah yang didorong oleh adanya 2 faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berhubungan dengan Muhammadiyah sebagai organisasi induk yang memandang perlunya pola pembinaan ideologi dan gerakan syiar dakwah dikalangan mahasiswa.

Sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan kondisi kebangsaan, realitas sosial dan politik tahun 60-an yang pada saat itu penuh dengan gejolak. Hal itu tentu menegaskan, aktivisme IMM tidak lepas dari nilai dan semangat dalam Muhammadiyah berdasarkan pada spirit keimanan,keilmuan, dan kemasyarakatan yang tinggi. Sebagaimana yang tercantum dalam maksud dan tujuan Muhammadiyah yakni, “ Menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Kemudian diteruskan menjadi tujuan IMM itu sendiri yakni, “ Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.”

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, IMM sebagai wadah untuk melakukan sebuah perjuangan-perjuangan dalam mewujudkan apa yang telah menjadi tujuan Muhammadiyah dan tujuan IMM itu sendiri. Maka, IMM perlu adanya upaya untuk melahirkan dan mencetak kader-kader IMM aktivis yang memiliki jiwa semangat yang tinggi dalam memperjuangkan organisasi ini dimasa yang akan datang nanti.

Kader IMM yang mempunyai jiwa aktivis harus mampu berpegang teguh terhadap nilai-nilai profetik. Di mana, konsepsi ilmiah dapat dimanifestasikan menjadi transformasi sosial yang mengarah ke suatu problematika yang ada.

Sebagai mahasiswa Islam perlu juga adanya semangat kebangsaan dan ke-Indonesia-an yang menjadi bagian tak kalah penting dalam kehidupan Ikatan. Sebagai organisasi kemahasiswaan yang notabenya adalah kaum intelektual, IMM memiliki tanggung jawab sebagai pembaharu dimasa depan. Posisi mahasiswa selaku generasi yang berada di tengah antara masyarakat dan pemerintah, kader IMM harus menjadi salah satu bagian dari pengawal kehidupan sosial yang berkeadilan dan berkeadaban.

Nilai keislaman dan juga nilai kebangsaan itulah yang menjadi etos aktivisme organisasi ortonom Muhammadiyah ini. Yang dikuatkan dalam deklarasi pada tanggal 5 Mei 1965, poin satu yang mengutarakan tentang “Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiah IMM” dan juga dalam salah satu nilai dasar IMM yang menegaskan bahwa, “ Segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan kemungkaran adalah lawan besar dari gerakan IMM, perlawanan terhadapnya adalah kewajiban setiap kader IMM”.

Dari penegasan ini dapat diartikan bahwa kader IMM mempunyai hak untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan yang ada pada masyarakat Indonesia,dalam bidang apapun itu kader aktivis IMM perlu adanya gerakan-gerakan untuk merespon segala persoalan yang ada. Yang harus mereka atasi dan mereka hadapi bersama.

Membahas tentang prolematika pada etos aktivtisme IMM yang mana kehidupan organisasi kemahasiswaan ini termasuk IMM perlahan mengalami pergeseran. Entah bergeser ke hal yang lebih baik atau sebaliknya, karena sudah tampak sekali tidak jelas pergeserannya. Namun sebagai seorang kader ikatan, upaya untuk mengevaluasi dan pembacaan internal dengan melihat realitas yang relavan harus dapat dilakukan dengan berbagai cara,metode dan lain sebagainya.

Secara kritis aktivisme IMM saat ini mengalami dehidrasi etos. Ada tiga ciri aktivisme diantaranya yakni gerakan,intelektual,dan pengkaderan. Ketiga hal inilah yang menjadi simbol hidupnya organisasi IMM dan juga menjadi kunci sukses dari identitas sebuah organisasi kemahasiswaan. Dan apabila ketiganya kehilangan etos, maka nilai dari organisasi itu akan hilang dengan sendirinya.

Membahas tentang pergerakan di dalam gerakan kemahasiswaan yaitu yang pertama, pada era sebelum reformasi, mahasiswa identik dengan gerakan kritik pemerintah sehingga dapat melahirkan sejarah-sejarah besar seperti tragedi tahun 1965-1998. Hal itu terjadi karena memang dari semangat perlawanan mahasiswa benar-benar ada dan dipupuk dengan melakukan kajian dan analisa strategis terhadap kondisi bangsa.

Dan juga pergerakan mahasiswa pada saat itu dilandasi dengan komitmen serta kematangan kajian yang sangat kuat. Sehingga gerakan-gerakan yang dilakukan benar-benar masif. IMM pun juga ikut menjadi salah satu bagian dari peristiwa sejarah tersebut.

Namun, dewasa ini aktivisme IMM di Wilayah gerakan dapat dikatakan loyo dan lemah, jika tidak mau dikatakan telah mati. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan IMM mulai berkembang pesat diberbagai daerah, tidak satu pun gerakan yang dapat dikatakan sebagai gerakan masif (konsisten) untuk melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pemerintah. Meskipun ada beberapa gerakan, namun itu dapat dibuktikan hanya pada ritualitas aksi dan eksistensi semata.

Padahal, kalau ingin dikupas, sampai hari ini pun banyak sekali persoalan kebangsaan yang sangat urgent untuk dikritisi dan perlu dikaji kembali. Kedua, persoalan intelektual kader-kader IMM yang menjadi getir dan kehilangan etos. Para aktivis pada masa orde baru aktif melakukan pengayaan-pengayaan wawasan akademik lewat membaca, menulis, dan diskusi (literasi).

Hal ini sangat berbeda dengan aktivis mahasiswa saat ini, reformasi melahirkan demokrasi yang menjamin kebebasan berekspresi dan berargumentasi dalam setiap individu namun soal kualitas mengalami degradasi yang mengkhawatirkan.

Pasca reformasi para aktivis lebih banyak berbicara tentang politik daripada pengayaan intektual. tema-tema jabatan dalam hal pemilihan umum pada saat itu. Mirisnya, proyek-proyek politik penguasa menjadi mainan aktivis mahasiswa sekarang ini. Hal itu tidak baik dan dampaknya akan mematikan nalar kritis kaum intelektual. Sangat mudah untuk menentukan tolak ukur intelektual para aktivis yaitu dengan berbagai pertanyaan, berapa banyak orang yang sering membaca buku? berapa banyak orang yang gemar menulis? Dan berapa banyak orang yang senang berdiskusi terkait topic atau isu saat ini? Pertanyaan seperti ini mungkin sangat terdengar di telinga kita para kaum intelektual dan juga para aktivis.

Jika dilihat kembali mayoritas orang yang memiliki ketertarikan dalam aktivitas membaca, menulis, dan berdiskusi mengenai isu dan permasalaha yang ada dapat kita lihat dengan kasat mata. Bahwa masih banyak aktivis di luar sana yang begitu sulit untuk diarahkan ke dalam aktivitas yang demikian. Terlihat sepele namun mempunyai effort yang besar bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

Ketiga, pengkaderan yang diibaratkan sebagai jiwa, ruh, dan jantung organisasi. Namun sangat disayangkan, pengurus IMM tidak cukup cakap dalam menjalankan sebuah pengkaderan tersebut. Sehingga ribuan kader yang masuk dalam organisasi IMM minim untuk mendapatkan transformasi ideologi, penguatan wawasan dan pemahaman tentang apa itu ideologi IMM dan Muhammadiyah secara berkesinambungan, serta penguatan atas dasar kecintaan terhadap IMM.

Karena, kehidupan IMM ditentukan oleh transformasi-transformasi yang ada pada organisasi tersebut. Terjadinya kelumpuhan dalam jalannya pengkaderan diakibatkan adanya para stakeholder dalam organisasinya tidak memiliki kapasitas yang baik dan tidak mempunyai skill yang dimiliki dalam melakukan sebuah pengkaderan yang baik untuk anggotanya. Merosotnya etos gerakan, degridasi intelektual,dan melemahnya pengkaderan adalah sebuah kecacatan yang berujung pada matinya vitalitas IMM.

Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman dan kebangsaan harus dikembalikan dalam kehidupan IMM. Kedua hal itu harus menjadi etos aktivisme IMM, sehinga nilai transformasi Islam akan menjadi nyata dalam menjawab persoalan-persoalan kemasyarakatan. Dalam menanggapi sebuah problema yang terjadi pada organisasi IMM, perlu adanya upaya logis yang dapat dilakukan oleh para aktivis IMM, khususnya dapat melakukan gerakan seperti budaya literasi; membaca, menulis, diskusi-diskusi ringan, serta praksis gerakan secara berkelanjutan dan menghasilkan gerakan-gerakan IMM yang masif. Karena sesungguhnya demikian itu merupakan identitas kaum intelektual dalam rangka melakukan perubahan-perubahan menuju kehidupan yang baldatun tayyibatun warabbun gafur.

Jadi, kesimpulannya adalah kita sebagai seorang kader aktivis IMM harus mampu menghadapi segala persoalan yang ada pada kehidupan bermasyarakat. Dari berbagai tantangan,ketidakadilan serta kesewenang-wenangan mengenai keadaan Indonesia saat ini.

Maka, kader aktivis harus berada di garda terdepan dalam melakukan sebuah perlawanan yang ada. Serta seorang kader aktivis IMM harus mempunyai etos jiwa aktivisme yang tinggi dalam menghadapi segala problematika. Karena setelah ini akan bermunculan problema kehidupan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan bagi para kader aktivis IMM yang siap sedia untuk mengorbankan waktu,tenaga,materi dan juga pikirannya demi kemakmuran bangsa Indonesia yang lebih baik lagi.

Semoga setelah ini dapat terlahirkan kader aktivis di dalam organisasi IMM yang mampu menjawab segala aspek persoalan bangsa kita ini, dalam berbagai aspek misalnya agama, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain.

Sehingga dapat mewujudkan tujuan dari berdirinya organisasi IMM. Salah satunya seorang kader aktivis IMM dapat dikatakan sebagai kaum intelektual dalam melakukan sebuah perubahan menuju kehidupan baldatun tayyibatun warabbun gafur. Yaitu keadaan dimana negeri yang menjadi dambaan dan impian seluruh ummat dan bangsa dengan ciri-ciri diantaranya keadaan negeri selaras antara kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. Semoga itu nanti dapat diwujudkan melalui kader aktivis IMM yang mempunyai etos semangat daya juang yang tinggi dalam memperjuangkan organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Aamiin.

Penulis : Septi Sartika